BERTEMUNYA CINTA DAN KEPAHLAWANAN

DR. SAIFUL BAHRI, M.A.

salahuddin

Ada berbagai alasan seseorang untuk menikah. Bagi seorang muslim, utamanya ia sedang menjalankan sunnah Rasulullah SAW yang diikuti para sahabat dan tabi’in setelahnya. Motivasi ideologis sangat laik untuk dijadikan alasan utama. Tapi, jika alasan tersebut menjadi satu-satunya motivasi, menurut penulis tentunya tidak selamanya demikian. Tujuan dan alasan pernikahan, meskipun bermuara satu, cabangnya bisa banyak. Belum lagi, jika terjadi disorientasi dalam membangun sebuah pernikahan.

Sebagian menikah karena kegelisahan dan desakan syahwat yang manusiawi, tentu tidak aib jika dibangun persepsi positif dan pijakan moral yang dikedepankan.

Sebagian menikah karena menindaklanjuti sebuah rasa yang sulit untuk dideskripsikan. Orang banyak menamakannya cinta, sebuah rasa yang orang banyak merasakannya karena manusiawi. Tetapi, banyak orang salah mempersepsikannya. Cinta itu memiliki dan mengatur perilaku, kata sebagian orang. Faktanya, cinta adalah anugerah Allah. Musa pun Allah jadikan seorang anak yang sejuk dipandang mata, cinta tumbuh berkembang di sekitarnya.

Dan Aku telah melimpahkan kepadamu cinta (kasih sayang) yang…

View original post 659 more words

Semacam Resensi: If You Find Me

Judul Buku: If You Find Me
Penulis: Emily Murdoch
Tahun Terbit: 2013
Award: Milwaukee County Teen Book Award Nominee (2014), Cyril’s Award Nominee (2013), TAYSHA’s List selection (2014), Waterstones Children’s Book Prize shortlist (2014), BFYA 2014 selection (2014)
Blue Hen List selection, Goodreads Choice Award Nominee for Debut Author, Best Young Adult Fiction (2013), Carnegie Medal Nominee (2014), Green Mountain Book Award Nominee (2016)

Ceritanya tentang dua anak satu ibu, lain ayah, Carey (14), Jennessa(6). Ibu mereka pecandu obat dan alkohol. Dia membawa kabur Carey ketika dia berusia 5 tahun, dengan alasan ayah Carey jahat. Padahal mah ibunya Carey yang jahat. Selain suka mabuk, dia juga suka menyiksa anaknya secara fisik dan kejiwaan. Setelah hampir dua bulan meninggalkan Carey dan Jennessa di hutan sendirian, muncullah ayah Carey dan seorang petugas sosial. Ternyata Joelle– ibu Carey–menulis surat pada ayah Carey, menyerahkan Carey dan Jennessa ke dalam pengasuhan ayahnya. Sesungguhnya pengasuhan Carey memang jatuh pada ayahnya seorang, maka dari itu saat ibu Carey membawanya pergi, hal itu termasuk penculikan. Jennessa yang masih kecil meskipun beda ayah, ditampung juga oleh ayah Carey. Ayah Carey sudah menikah lagi, dengan janda beranak satu. Ibu tiri Carey, Melissa digambarkan sebagai perempuan yang baik sekali, menerima Carey dan Jennessa, merawat dan membimbing mereka. Yang agak kurang baik mungkin Delaney, tapi bisa dimaklumi, karena ada unsur cemburu juga di situ. Jadi buku ini alurnya maju-mundur. Alur majunya bercerita perjuangan Carey di peradaban, setelah sepuluh tahun tinggal di dalam hutan. Nggak sekolah, nggak ke mall, nggak punya tetangga. Alur mundurnya ya cerita yang dilalui saat mereka di tengah hutan. Kekhawatiran Carey akan penerimaan keluarga dan masyarakat terkait masa kelamnya di hutan. Tapi habis itu happy ending kok.

Kalo gue ringkas jadi begitu kayanya nggak istimewa ya bukunya. Padahal pas baca mah, gw nggak lepas-lepas dari buku. Meski agak too good to be true– Carey dan Jennessa digambarkan sebagai anak perempuan yang cantik banget, pintar melebihi anak-anak seusia mereka. Carey yang jago main biola, dan akhirnya pacaran sama cowok yang setahun lebih diincar Delaney. Pantes Delaney senep banget. Kalau bagian ibu tiri yang baik banget itu sih, gue anggap memang sebaiknya begitu. Gue nggak suka sama cerita soal ibu tiri yang kejam. Stereotip itu membentuk bayangan orang bahwa kita nggak bisa sayang sama anak orang meski bukan kita yang melahirkan. Nggak bener kan itu?

Cara berceritanya, cara penulisan, beberapa kata dan pemikiran yang menunjukkan bahwa Carey memang pernah jauh dari peradaban, tapi juga puitis dan penuh perasaan. Yang menarik buat gue, Carey ini suka berdoa pada Saint Joseph (tokoh yang ditemukan di satu buku) saat dia dalam kesulitan. Ini menunjukkan bahwa meski jauh dari peradaban, kesadaran kita akan kekuatan yang di luar kuasa kita itu ada. Fitrah berketuhanan, kalo kata orang pinter mah (bukan kata gue). Kenapa dia memohonnya sama Saint Joseph dan berdoa demi beans (polong-polongan), itu masalah kurangnya bimbingan aja sih. Oh iya, yang menarik juga kehidupan ekonomi ayahnya Carey yang berprofesi sebagai farmer. Kerjanya ngurusin sapi, tapi rumahnya bagus. Si Carey dan Jennessa masing-masing dapat kamar sendiri. Di rumahnya makanan berlimpah, listrik ada, pemanasan memadai. Sampai mandi aja pakai pemanas air. Beda amat ya sama petani di sini. Prihatin gue.

No Subject

Iseng, mau ngecek doang, kalo pake hape yang satu ini gw bisa nulis imel sepanjang apa. Karena hape yg satu lagi gw cuma bisa nulis sepanjang 1024 karakter. Haha garing banget nggak sih? Di sini bisa nulis 8 ribu sekian karakter. Tapi gw mau nulis apa pula? Mau curhat sebenernya, tapi kalo curhat di sini nanti ketauan betapa baper dan alaynya gw, jadi mending curhatnya dalam hati. Ada banyak buku yg udah dibaca belakangan ini, tapi entah kenapa gw lupa judulnya apa aja dan ceritanya kaya gimana persisnya, saking non-stop-nya baca. Kalo liat page Goodreads gw, target tahun lalu nggak selesai, tapi sebenernya selesai melampaui target. I just didn’t keep my track. Faktor susah nyambung ke goodreads, dan juga karena selesai satu buku, langsung nyambung buku lain, tanpa ada masa perenungan atas apa yg baru dibaca. Not a good habit, bahkan gw khawatir ini tanda2 kecanduan. Ouch. Katanya gak mau curhat? Haha

Granola Bar Apalah Apalah ^^

image

Alkisah, di negeri seberang lautan, sebagian rakyatnya suka sarapan dengan makanan yang dibuat dari awuran oat, kacang-kacangan dan buah kering yang lebih dulu dipanggang, lalu dimakan dengan menyiramkan susu atau jus buah, mereka menyebutnya dengan granola. Karena bentuknya yang awur-awuran dan harus dimakan pakai sendok, beberapa orang dengan alasan kepraktisan membuatnya menjadi berbentuk batangan,  mereka menyebutnya dengan granola bar.

Lupa kapan tepatnya mulai kepengin bikin granola bar. Mungkin sejak ada yang suka bawain oat bar produksi Thailand yang rasanya nggak beda jauh dengan makanan ringan–jauh dari mengenyangkan. Jadi kepikiran untuk membuat sendiri. Membuatnya relatif mudah, cuma diaduk-aduk, panggang, selesai. Bahannya bisa disesuaikan sendiri, tergantung selera dan persediaan. Cuma memang sih, dari berbagai resep yang gue lihat, semuanya pakai oat. Eh iya ya, granola kan memang dibuat dari oat. Untung sekarang oat relatif mudah didapat.

Secara umum bahan-bahan bisa dibagi menjadi dua jenis, 1)bahan kering, yang juga bahan isi: oat, emping jagung, emping beras, keripik pisang, kacang-kacangan,,  buah kering, dll. 2)bahan basah, yang berfungsi sebagai pengikat dan penambah rasa: madu, selai, puree pisang, apple sauce, susu kental manis, minyak, mentega, telur, margarin.

Yang gue buat kemarin itu pakai:

  • 400 g quick cooking oat = 2×10200= Rp20400 (pakai Quaker Oat, tapi oat Ligo lebih murah)
  • < 100 g kacang garing.  Kemarin beli yang kemasan 250 g= Rp15200, soalnya yg kemasan 100 g harganya Rp8000. Sisanya dicemilin dong. Lupakan perkara jerawat :p
  • 110 ml minyak kelapa = 110/1000x Rp22400= Rp2453
  • 150 ml selai nanas = Rp6700 (merk morisca, sepertinya lebih murah kalo bikin selai nanas sendiri, nanas ukuran sedang juga Rp6000)
  • 1/2 kemasan stroberi. Cincang super kecil. 1 kemasan = Rp8000
  • < 1 kantong susu kental manis full cream = Rp9000
  • 4 sendok makan gula pasir

Haha pake gula pasir, susu kental manis, selai kemasan, nggak yakin deh ini camilan sehat. Kadar gula pasirnya tinggi. Ya, lain kali nggak usah pake gula pasir sama sekali deh, tapi nggak janji :p
Oat diangrai dulu, biar lebih garing. Cuma karena takut gosong, menyangrainya juga sebentar banget. Kacang dikupasi. Campur oat dengan kacang, sisihkan.
Campur stroberi, selai nanas, susu kental manis, gula pasir dan minyak kelapa. Nah, waktu mencampur ini kok nggak bisa menyatu. Gue mikir, apa semestinya nggak usah pakai minyak sekalian? Tapi kalo nggak pakai minyak susah garing dong. Alhamdulillah dapat ide, campurannya dipanaskan sebentar di atas kompor, sambil diaduk-aduk, eh, akhirnya bisa tercampur. Jangan tanya kenapa bisa begitu. Gue juga nggak tahu. Setelah bahan basah menyatu, masukkan campuran oat dan kacang tanah, aduk rata.
Sendoki adonan masing-masing 1 sendok makan, pipihkan di atas loyang bersemir minyak. Panaskan oven terlebih dahulu. Panggang dengan api sedang sampai agak kecoklatan, kurang lebih 15 menit. Kemarin itu ceritanya lagi nggak mau banyak cucian, gue memanggang pakai kertas cupcake. Ternyata kalau pakai kertas pun tetap harus diolesi minyak ya? Soalnya granolanya lengket dengan kertas. Terpaksa dilepasi dari kertasnya satu-satu, bagian yang lengket dengan kertas dibuang dengan bantuan pisau. Huhu mau gampang malah jadi repot.

Dapat tiga loyang = 48 keping granola bar. Rasanya lumayan enak, meski pakai gula pasir sebanyak itu tapi ternyata nggak terlalu manis. Mengenyangkan. Agak aneh sih sebenernya, perut kenyang, tapi seperti ada rasa gula darah gw nge-drop. Aneh deh. Mungkin lain kali pakai buah kering juga, biar lebih manis dan oat-nya nggak kebanyakan. Gue kurang suka oat ternyata hehe.
Omong-omong, gue nggak tau kenapa banyak resep memakai quick cooking oat, bukannya instant oat. Mungkin lain kali nyoba pakai instant oat, tapi nggak janji hehehe. Ongkos produksinya lumayan mahal tuh. Padahal udah nggak pakai kurma atau kismis. Tapi dibandingkan kalau beli S*yjoy atau granola bar kemasan, masih lebih murah bikin sendiri. Bahannya juga jelas, nggak pakai zat kimia aneh-aneh hehe.

Bedah Buku Muslimah Sukses Tanpa Stres

muslimahsuksestanpastress

Tadi (21/5) ikut bedah buku Muslimah Sukses Tanpa Stres di Masjid UI. Sebenernya udah baca bukunya sejak awal April, meski baru sekali baca. Pengin baca lagi, insyaAllah. I put five stars for this book on Goodreads. Iya, saking sukanya. Banyak ilmu yang baru gue ketahui. Insya Allah menambah kecintaan gue terhadap Islam, karena benarlah aturan di dalamnya sangat adil. Masalahnya pengetahuan kita tentang fiqih yang setengah-setengah membuat pelaksanaan hukum Islam tidak sempurna dan membuat hidup terasa menekan. (((MENEKAN)))(((echo)))

Gue lupa ada berapa bab dalam buku ini, tapi inti buku ini sesungguhnya ada di 2 bab awal, bahwa muslimah tidak dituntut untuk menjadi serba bisa (superwoman) dan muslimah adalah mulia by default (udah dari sononya mulia). Setelah penjelasan tentang mulianya muslimah, barulah bab-bab selanjutnya membahas mekanisme pemuliaan. Mulai dari muslimah yang sejak lahir hingga ajal menjemput dijamin nafkahnya, muslimah yang bisa berkarir sebagai istri dan atau sebagai ibu, tentang perwalian, tentang jodoh, tentang poligami tanpa galau, dan bagaimana jika takdir menentukannya tetap melajang.

Dan tadi bagian yang seru dibahas adalah tentang nafkah. Bahwa Islam tidak mengenal yang namanya harta bersama, Islam tidak mengenal yang namanya harta gono-gini. Bahkan tadi dikatakan Bu Erma, bahwa perihal harta gono-gini adalah kebiasaan warisan Belanda. Islam menetapkan pemisahan harta antara harta suami dan harta istri. Benar bahwa di dalam harta suami ada hak istri, dan harta istri sepenuhnya hak istri, tapi istri yang menguasai sepenuhnya harta suami bisa dibilang sebagai istri yang rakus. Aduh serem amat. Sedang dalam masyarakat lazim didapati suami menyerahkan seluruh penghasilan pada istri lalu istri yang mengaturnya. Pernah ada financial planner yang mengatakan kebiasaan seperti itu tidaklah sehat karena suami jadi bisa tidak mengerti bagaimana mengatur keuangan. Begitu juga jika sebaliknya, istri yang menyerahkan sepenuhnya urusan keuangan kepada suami bisa jadi tidak mengerti tentang pengaturan keuangan. Dengan pemisahan harta, diharapkan suami-istri mengerti nilai harta dan bisa mengelolanya dengan baik. Kebetulan financial planner tersebut memang agak kebarat-baratan, jadi nasihatnya terdengar egois ya. Padahal…

Perasaan gue, tiap menghadiri kajian pernikahan, masalah nafkah ini yang selalu menjadi pertanyaan. Tentang suami yang tidak menafkahi keluarga, tentang istri yang terpaksa menjadi tulang punggung keluarga. Padahal seperti dikatakan di atas, dalam Islam, nafkah adalah tanggung-jawab laki-laki, baik itu suami (jika dia bersuami), atau walinya (jika tidak bersuami). Sepertinya kalau persoalan perwalian dan kewajiban menafkahi ini terpenuhi, hampir kelar deh urusan ummat. Gue bilang hampir, soalnya gue lagi nggak kepikiran masalah lain hahaha. Ya maklum deh, ilmunya masih seucrit, IQ-nya seunyil. Makanya mekanisme mendidik laki-laki supaya mengerti tentang kewajibannya juga masih kurang jelas. Well, dengan tulisan ini insya Allah adalah bagian dari ikhtiar membagi ilmu. Masyarakat mungkin lalai tentang ini, yang sudah tahu diharapkan bisa mengingatkan secara baik. (((SECARA BAIK))).

Gue berharap di waktu mendatang akan ada buku-buku bertema sejenis, biar kita makin paham. Secara pribadi gue merasa memang buku ini masih terlalu singkat. I went like, “Tell me more, tell me more!” cuma gak sambil nari-nari kaya di film Grease. Kekuatan buku ini ada pada bahasanya renyah, juga layoutnya yang menarik. Buku fiqih bahasanya suka berat kan? Jarang ada ilustrasinya pula. Buku yang ini enak dibaca dan perlu 🙂

Semacam Bubur Sum-sum dengan Candil Singkong

bubur sumsum candil

Gw suka bubur candil. Itu makanan yang lumayan simpel tapi enak banget. Pinter deh yang menciptakan resep bubur candil itu. Nyokap jarang bikin, karena beliau kurang cocok makan ketan. Gw sih awalnya merasa nggak kenapa-kenapa sama ketan, tapi waktu terakhir kali makan bubur candil (ketan) perut terasa perih, gw jadi ragu mau bikin bubur candil lagi. Ceritanya trauma *tsaah

Terus kepikiran sama resep candil singkong yang ditulis beberapa orang, di beberapa situs. Iya, ternyata banyak yang punya ide sama; bikin candil dari singkong. Resep yang gw baca menyebutkan penambahan tepung tapioka pada singkong parut. Mungkin biar gampang dibentuk dan biar nggak buyar, tapi bukannya tapioka itu bahan bakunya singkong? Maksud gw, kenapa menambahkan sesuatu pada sesuatu yang mengandung sesuatu itu? Kalau singkong parut dipegang, emang rasanya lembek gitu ya? Jadi susah dibentuk. Jadi kenapa bukan kadar airnya aja yang dikurangi supaya bisa dibentuk dan nggak usah menambahkan tepung tapioka lagi?
Oke, dipraktekin deh teori itu. Dengan bantuan kain, parutan singkongnya diperas dulu. Dan berhasil. Singkong parutnya bisa dibentuk dengan (relatif) mudah, nggak buyar saat dicemplungkan ke air mendidih.

Kelemahannya mungkin ada di soal rasa. Lebih enak rasa candil dari ketan. Jauh lebih gurih, meski nggak dimakan dengan santan. Jadi penambahan santan(atau susu) ke dalam candil singkong itu hampir wajib. Terus jadi ingat sama pelajaran PKK jaman SMP waktu membahas singkong. Kandungan utama singkong memang karbohidrat, disarankan untuk mengolah singkong dengan bahan lain yang mengandung lemak dan protein agar rasa dan kandungan gizinya meningkat. Contoh simpel bahan yang mengandung lemak dan protein itu ya kelapa. Ngebayangin candil singkongnya dimasak dalam santan kelapa terus ditambahin kacang merah, makannya pakai gula merah atau sirup.

Belum sempat bikin yang persis kaya gitu, jadinya malah kaya foto di atas itu. Candil singkong dimasak dengan santan dan jagung manis, dikentalkan dengan tepung beras. Kalau pakai kacang merah gw rasa lebih enak tidak usah dikentalkan dengan tepung. Di kesempatan lain gw mencoba bikin pakai kacang tanah. Rasanya beda, tapi tetap enak. Meski gw suka manis, tapi bubur ini bisa juga dimakan tanpa saus gula. Bisa disajikan hangat atau dingin. Gw suka makan hangat-hangat, tapi adik gw ternyata menambahkan es batu di atasnya. Jadi enak juga dimakan dingin (buat yang suka dingin).

Semacam Bubur Sum-Sum dengan Candil Singkong

Bahan:

  • 1/2 kilogram singkong parut. Peras agar berkurang airnya. Tampung perasaan, eh perasan dalam mangkuk. Diamkan perasan agar mengendap. Campur parutan singkong dengan garam secukupnya, bentuk parutan singkong, bulat-bulat.
  • Kacang tanah dua bungkus kecil (kira-kira segenggam), cuci dan rendam atau
    1/2 bonggol jagung manis, disisir.
  • 1/4 kelapa tua, dibuat santan.
  • tepung beras secukupnya
  • gula merah, disisir. masak dengan sedikit air, saring.
  • air secukupnya
  • garam secukupnya

Didihkan air, masak bulatan singkong parut hingga matang dan mengapung. Setelah itu masukkan tepung beras dan garam yang dilarutkan dalam santan, dan sisiran jagung manis. Masak 3 menit-an, matikan api. Sajikan begitu saja atau dengan saus gula merah.

 

Perkiraan biaya:

  • 1 kilogram singkong Rp4000
  • 1 bonggol jagung Rp3500
  • 1 butir kelapa Rp7000
  • 1/2 kilogram gula merah= Rp7000, yang dipakai sekitar 3 bumbung, jadi berapa kilogram tuh?
  • kacang tanah 2 bungkus= 2 x Rp500= Rp1000

Catatan 1: Kalau pakai kacang tanah, kacang tanahnya dimasukkan sebelum memasukkan singkong. Kacang tanah kan keras, memasaknya agak lama sedikit. Sebaliknya kalau pakai jagung manis, dimasukkan belakangan supaya tetap manis.

Catatan 2: Fotonya jelek amat ya. Gw bilang jelek duluan sebelum dibilang jelek sama orang wkwkwk

CraftOn_HQ Part 2

IMG_4714
Udah 5 hari lebih banyak dan project yang kemarin dulu itu belum selesai juga haha. Rajutannya dijadikan dompet, tapi sayangnya belum dipasangi resleting. Bagian pasang resleting emang bagian yang bikin males, tapi qadarallah ada yang pesan tempat pensil crochet akhirnya dompet yang ini ditunda dulu.

Adonan cold porcelain clay-nya tadinya mau dibuat semacam kancing warna-warni gradasi. Awalnya bikin adonan pakai 3 warna primer, terus dicampur-campur. Kebayangnya sih bakal jadi bagus, tapi akhirnya kenapa jadi butek begitu ya? Gw juga salah waktu mengeringkannya. Mestinya emang nggak boleh buru-buru. Supaya nggak retak-retak. Bagusnya memang hasilnya nggak ada yang retak, tapi jadi ciut banget dan karena terlalu cepat kering jadi melengkung. Belum tau lagi mau diapain hasil lempengan-lempengan itu. Mau diterusin atau bikin baru

.IMG_4712_a